Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin http://www.almanhaj.or.id/content/1823/slash/0 Pertanyaan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana sikap seorang muslim terhadap kebanyakan maksiat yang tersebar di negeri kaum muslimin seperti ; riba, tabarrujnya kaum wanita, meninggalkan shalat dan lain-lain ? Jawaban Sikap seorang muslim (terhadap hal itu) telah dibatasi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda. “Artinya : Barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, maka jika ia tidak mampu dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman”. Dari hadits ini, pengubahan terhadap kemungkaran itu melalui tiga tahapan. Tahapan Pertama : Pengubahan dengan tangan Jika anda berkuasa merubah kemungkaran dengan tangan anda, maka lakukanlah. Dan hal itu memungkinkan dilakukan oleh seseorang jika kemungkaran tersebut terjadi di rumahnya dan dialah yang berkuasa di rumah itu, maka dia dalam kondisi ini dapat mengingkari kemungkaran tersebut dengan tangannya. Maka seandainya seseorang masuk ke dalam rumahnya lalu ia menemukan alat musik, karena itu adalah rumahnya, anak itu anaknya, dan keluarga itu adalah keluarganya, maka memungkinkan baginya untuk merubah kemungkaran tersebut dengan tangannya, seperti dengan mematahkan alat tersebut karena ia mampu melakukannya. Tahapan Kedua : Pengubahan dengan lisan Jika ia tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangannya maka dapat berpindah pada tahapan yang kedua yaitu pengubahan kemungkaran dengan lisan. Dan pengubahan dengan lisan (dapat dilakukan) dengan dua cara. Pertama : Dengan mengatakan kepada pelaku kemungkaran, ‘Tinggalkanlah kemungkaran ini’, dan berbicara dengannya serta memarahinya jika kondisi menuntut demikian. Kedua : Jika ia tidak dapat melakukan hal tersebut maka hendaklah ia menyampaikan kepada para penguasa (waliyul amri). Tahapan Ketiga : Pengubahan dengan hati Jika ia tidak sanggup melakukan pengubahan terhadap kemungkaran dengan tangan atau dengan lisan maka hendaknya ia megingkarinya dengan hati dan itu merupakan selemah-lemah keimanan. Pengingkaran dengan hati adalah dengan membenci kemungkaran itu dan membenci keberadaannya serta menginginkan agar ia tidak ada. Disini terdapat satu point yang harus kita perhatikan, dan ia diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini : ‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat”. Penglihatan disini ; apakah ia adalah penglihatan dengan mata atau berdasarkan pengetahuan atau secara sangkaan ? Adapun secara sangkaan maka tentu bukanlah yang dimaksud di sini, karena tidak boleh memberi sangkaan yang buruk terhadap seorang muslim!! Jika demikian maka yang tersisa adalah penglihatan/pandangan dengan mata atau berdasarkan pengetahuan. Dengan mata : Maksudnya jika seseorang melihat (langsung) kemungkaran tersebut. Adapun berdasarkan pengetahuan : Jika ia (hanya) mendengar namun tidak melihatnya, atau jika seseorang yang dapat dipercaya memberitahukannya tentang (kemungkaran) tersebut. Disini jelaslah bagi kita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan agar kita tidak tergesa-gesa dalam menghukumi seseorang dalam kemungkaran hingga kita melihatnya : ‘Barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan suatu kemungkaran hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu hendaklah ia merubahnya dengan lisannya, jika ia tidak mampu hendaklah ia merubahnya dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman Sebagian orang bertanya kepada saya : ‘Saya duduk bersama pelaku kemungkaran dan saya membenci (kemungkaran itu) dengan hati serta mengingkarinya dengan hati, maka apakah saya terjatuh dalam dosa atau tidak ?’ Ia mengatakan : ‘Saya bersaksi kepada Allah bahwa saya membenci kemungkaran ini dan tidak menyukainya dengan hati saya’. Maka kita mengatakan : Anda belumlah mengingkarinya dengan hati anda, karena jika anda telah mengingkarinya dengan hati anda maka anda akan mengingkarinya dengan anggota tubuh anda, karena Nabi Shalallallahu ‘alaihi wa sallam berkata. “Artinya : Ingatlah ! Bahwa di dalam jasad itu terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka akan baik pula seluruh jasad. Dan apabila ia rusak maka akan rusak pula seluruh jasad. (Ketahuilah) bahwa ia adalah hati” [1] Seandainya hati anda membencinya, maka apakah mungkin anda tetap duduk bersama orang-orang yang melakukannya ? Oleh karena itu Allah berfirman. “Artinya : Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka” [An-Nisa : 140] Oleh karena itu, sesungguhnya sebagian orang awam sangatlah memprihatinkan mereka menyangka bahwa jika ia duduk bersama kemungkaran dalam keadaan membencinya dengan hatinya, sebagai makna (yang dimaksud) oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Maka jika ia tidak sanggup maka (hendaklah) merubahnya dengan hatinya’. Padahal maksudnya tidak seperti demikian. Persoalannya seperti yang telah saya jelaskan kepada anda sekalian, bahwa orang-orang yang mengingkari (kemungkaran) dengan hatinya tentulah tidak mungkin tetap tinggal (dengan kemungkaran itu) baik secara kenyataan maupun secara syar’i. dan dustalah perkataan orang yang mengatakan bahwa saya membenci kemungkaran ini namun ia tetap duduk bersama pelakunya. Sebagian orang juga mengatakan kepada saya : ‘Sesungguhnya jika anda mengatakan hal itu tentulah haram bagi anda untuk tetap duduk bersama orang-orang yang mencukur jenggotnya, karena mencukur jenggot termasuk suatu kemaksiatan !!’ Kami menjawabnya : (Bahwa) kita mempunyai dua perkara. Pertama : Perbuatan mungkar. Kedua : Pengaruh kemungkaran itu. Apabila anda menemukan seseorang melakukan kemungkaran maka anda (harus) mengingkarinya sampai ia meninggalkan kemungkaran ini. Dan jika ia tidak melakukannya maka janganlah anda duduk bersamanya, karena termasuk dalam pengingkaran dengan hati jika anda tidak duduk bersamanya. Adapun jika anda mendapatkan sekelompok orang telah melakukan kemungkaran dan anda turut hadir pada mereka sementara melakukan kemungkaran tersebut, lalu mereka berhenti namun pengaruh kemungkaran itu masih tersisa pada mereka, maka apakah boleh anda tetap duduk bersama mereka ? Ya, boleh duduk bersama mereka karena hal yang anda saksikan ini merupakan pengaruh dari kemungkaran tersebut. Dengan demikian hendaklah anda sekalin memperhatikan perbedaan antara pengaruh/sisa-sisa kemungkaran dengan melakukan kemungkaran itu. Maka anda jangan duduk bersama orang yang mencukur jenggot mereka ketika mereka sedang mencukur jenggot mereka. Adapun setelah mencukur, seperti jika anda bertemu dengan mereka di pasar atau di depan toko atau di tempat semacamnya, maka kita (boleh) duduk bersama mereka, namun kita tidak boleh melewatkan kesempatan jika memungkinkan untuk menasihati mereka, karena kita telah melihat hasil perbuatan maksiat itu pada mereka, maka kita menasihati mereka karena hal ini termasuk amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dan sama dengan itu, jika anda duduk bersama seseorang yang tercium bau rokok darinya, maka tidaklah mengapa bila anda duduk dengannya namun nasehatilah ia untuk tidak membiasakan mengisapnya. Adapun jika ia sedang mengisap rokok maka anda janganlah duduk bersamanya karena jika anda duduk (dengannya) maka andapun menjadi sekutunya dalam dosa(nya). [Disalin dari kitab Al-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah Muhammad Ihsan Zainuddin, Penerbit Darul Haq] __________ Foote Note [1]. Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari no. 52 dalam kitab Al-Iman, dan Muslim no. 1599 dalam kitab Al-Musaqaah dari hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu.
Tulisan ini bukan berarti ana mendukung gusdur dengan AKKBB nya, insya Alloh mengenai penyimpangan gusdur sudah banyak yang mengkritisinya Namun sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah, maka kita mengambil jalan tengah dengan melihat kembali bagaimana cara Rosululloh dalam berdakwah amar ma'ruf Nahi Mungkar. Berikut ini fatwa Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili Penggerebekan dan Penghancuran Tempat MaksiatPertanyaan: Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili ditanya: Apakah kami diperbolehkan merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan, seperti menghancurkan lokasi-lokasi pelacuran dan mabuk-mabukan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia? Jawaban: Ini tidak boleh! Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak Waliyul Amr (umara). Tindakan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap tempat-tempat maksiat, (yakni) dengan menghancurkan dan membakarnya, atau juga tindakan melampaui batas seseorang dengan melakukan pemukulan, maka ini merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan. Para ulama telah menyebutkan masalah mengingkari dengan kekuatan tangan, merupakan hak penguasa. Yaitu orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya.” Makna kemampuan yang disebutkan dalam hadits ini, bukan seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh. Kalau demikian yang dimaksudkan, maka kita semua dapat memukul. Namun, apakah benar yang dimaksud seperti ini? Kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan syar’iyah. Yang berhak melakukannya ialah orang yang memiliki kemampuan syar’iyah. Yaitu, pengingkaran terhadap mereka tidak akan menimbulkan kemungkaran lain. Dengan demikian, perbuatan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang, baik dengan memukul atau menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dilakukan seperti pada sekarang ini merupakan pelanggaran Orang yang melihat kemungkaran atau melihat pelaku kemungkaran, hendaknya melaporkannya kepada polisi, sebagai pihak yang bertanggungjawab, atau para ulama atau para da’i, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang. Kemudian akan diselidiki, sehingga dapat diatasi dengan cara yang tepat. [Soal-jawab Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 27 Jumadil Akhir 1427H] *** - Sumber: Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016 - website: www.bukhari.or.id
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا. Ikhwah fiddin rahimakumullah ... Pada kesempatan ini insya Alloh akan kita bahas secara ringkas artikel tentang thaharah. Semoga Alloh memberikan kemudahan bagi kita semua untuk belajar dan diberi kefahaman ilmu. amin.. I. Bab Thaharah . Thaharah "طهارة" secara bahasa berarti bersih dan terlepas dari hadats. Adapun secara istilah adalah suatu bentuk kegiatan untuk menghilangkan najis atau hadats baik menggunakan air maupun debu, batu, dan semisalnya. Hukum thaharah adalah wajib sebagaimana Alloh memerintahkan : وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ;"Dan pakaianmu maka bersihkanlah" Al Muddatsir : 4. Thaharah terbagi menjadi 2 macam : 1. Thaharah haqiqiyyah , yaitu bersuci dari najis yang terdapat pada badan, pakaian mupun tempat. 2. Thaharah hukmiyyah , yaitu bersuci dari hadats, seperti keluar mani, kentut dsb. yang terbagi lagi menjadi 3 macam ;Thaharah Kubro, yaitu mandi wajib. Thaharah Sughro, yaitu wudhu, dan Thaharah pengganti dari keduanya jika tidak ada air, yaitu Tayamum. 1. Thaharah Haqiqiyyah. (bersuci dari najis) Pengertian najis adalah sesuatu yang secara syari'at diwajibkan bagi setiap muslim menghindar/menjauhinya dan membersihkannya bila sesuatu tersebut menimpanya. Najis itu ada 12 macam : ^_^ 1. Tahi manusia Berdasarkan sabda nabi Muhammad Sollallohu'alaihi wasallam : اذا وطئ احدكم بنعليه الاذى، فان التراب له طهور "Jika sendal salah seorang diantara kalian menginjak kotoran, maka tanah/debu sebagai menyuci baginya." Hadits sahih riwayat Abu Dawud : 385. 2. Air kencing manusia Berdasarkan hadits nabi : أن أعربياً بال فى المسجد فقام إلية بعض القوم , فقال النبي صلي الله علية وسلم (دعوه لا تزرموه) فلما فرغ دعا بدلو من ماء فصبة علية Dari hadits Anas bin Malik radhiyallohu'anhu, bahwasannya seorang arab badui datang ke masjid kemudian kencing didalamnya, maka berdirilah para sahabat hendak menghentikannya, namun Rosululloh sollallohu'alaihi wasallam bersabda : "Biarkanlah dia dan jangan mengganggunya " , hingga setelah selesai sang badui menunaikan hajatnya maka Rosululloh meminta air kemudian di siramkan ke bekas kencing tersebut. HR Bukhari (6025) Muslim (284). 3. Madzi, adalah air bening lekat-lekat yang keluar dari kemaluan ketika syahwat, keluar dengan tidak memancar dan tidak menyebabkan badan menjadi lemas setelahnya, terkadang keluar tanpa disadari. ini terjadi baik pada pria maupun wanita. ^_^ Madzi adalah najis berdasarkan Sabda Rosululloh sollalohu'alaihi wasallam kepada sahabat yang bertanya mengenai madzi : "قال النبي صلي الله علية لمن سألة عن المذي " يغسل ذكرة ويتوضي Nabi bersabda : "Hendaknya ia mencuci dzakarnya kemudian berwudhu" HR Bukhari (269) Muslim (303). 4. Wadi, adapun wadi adalah air bening pekat yang biasa keluar setelah buang air kecil, dan ini juga najis menurut kesepakatan ulama, عن بن عباس قال " المني والودي والمذي ، اما المني فهو الذي منة الغسل وأما الودي والمذي فقال أغسل ذكرك أو مذاكيرك وتوضئ وضوءك للصلاة " ;Dari sahabat Ibn 'Abbas radhiyallohu'anhu berkata " Mani, wadi, dan madzi. Adapun mani maka mewajibkannya mandi, adapun wadi dan madzi maka ia ( Rasulullah ) berkata cucilah dzakarmu kemudian berwudhulah sebagaimana wudhumu ketika hendak sholat." HR Baihaqi dan disahihkan Al Albani dalam kitab sahih sunan abu dawud (190). 5. Darah Haidh. Darah menstruasi adalah najis berdasarkan hadits Asma' : قالت جاءت أمرأة إلي النبي صلي الله علية وسلم فقالت إحدانا يصيب ثوبها دم الحبيض كيف تصنع ؟ فقال " تحتة ثم تقرصة بالماء ثم تنضحة ثم تصلي فية" ;Seorang sahabiah datang kepada Rasulullah sollallohu'alaihi wasallam bertanya " Pakaian salah seorang dari kami terkena darah haidh, maka apa yang harus ia perbuat ?, Rasulullah menjawab : "Hendaknya ia mengeriknya kemudian mencucinya dengan air, kemudian (tidak apa-apa) ia shalat dengannya". HR Bukhari (227) Muslim (291). Dari hadits diatas dapat kita ketahui bagaimana cara membersihkan pakaian dari darah haidh. 6. Kotoran binatang yang tidak dimakan dagingnya. Berdasarkan hadits : عن عبدالله بن مسعود قال أراد النبي صلي الله علية وسلم أن يتبرز فقال " ائتني بثلاثة أحجار " فوجد له حجرين وروثة (حمار) فأمسك الحجرين وطرح الروثة وقال هي رجس" ;Dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallohu'anh berkata : Nabi sollallohu'alaihi wasallam hendak buang hajat, kemudian memerintahkanku " Datangkan kepadaku 3 buah batu" maka aku hanya mendapati 2 batu dan routsah (kotoran himar), maka beliau mengambil batunya dan membuang routsah sembari berkata " Dia itu rijs (najis)". HR Bukhari (156) 7. Air liur anjing. Air liur anjing adalah najis, berdasarkan Sabda Nabi sollallohu'alaihi wasallam : طهور إناء أحدكم إذا ولغ فية الكلب أن يغسلة سبع مرات أولاهن بالتراب "Sucinya tempat air kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, dan yang paling pertama dengan menggunakan debu (tanah)". HR Muslim (279) 8. Daging Babi . Daging babi selain haram juga najis, berdasarkan firman Alloh dalam Al Qur'an : قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ;"Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu rijs (najis) atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS Al An'am : 145. 9. Bangkai. yaitu hewan yang mati dengan sendirinya tanpa disembelih dengan alat secara syar'i. Maka ia najis dengan kesepakatan ulama berdasarkan hadits : إذا دبغ الإهاب فقد طهر ;"Jika kulit (bangkai) telah disamak maka ia telah suci" HR Muslim (366) Kecuali 3 bangkai berikut maka tidak najis : 1. Ikan dan belalang. Karena Rosululloh sollallohu'alaihi wasallam telah bersabda: أحلت لنا ميتتان ودمان : أما الميتتان فالسمك , والجراد , وأما الدمان , فالكبد والطحال ;"Telah dihalalkan kepada kami dua bangkai dan dua darah, adapun dua bangkai yaitu bangkai ikan dan belalang, dan dua darah yaitu hati dan limpa " Hadits sahih riwayat Ibnu Majah (3218,3314) 2. Bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir di tubuhnya. إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينتزعه فإن في إحدى جناحية داء وفي الأخرى شفاء "Jika minuman salah seorang diantara kalian dihinggapi lalat maka hendaknya ia celupkan lalat itu kedalam minumannya kemudian menbuangnya, karena sesungguhnya pada salah satu sisi sayapnya (lalat) itu mengandung penyakit dan pada sisi yang lain terdapat penawarnya." HR Bukhari (3320) 3. Tulang, tanduk, kuku, dan bulu bangkai. maka tidaklah najis, berdasarkan riwayat dari Imam Bukhari dari Imam Az Zuhri secara mu'allaq namun dengan sighat Jazm sehingga haditsnya menjadi sahih : قال الزهري – في عظام الميتة نحو الفيل وغيره – أدركت ناساً من سلف العلماء يمتشطون بها ويدهنون فيها ، لا يرون به بأسً" "Berkata Imam Az Zuhri : "Aku mendapati ulama salaf bersisir dan berminyak dengannya. mereka tidak mempermasalahkannya" 10. Apa-apa yang terpotong dari anggota badan hewan sedangkan ia masih hidup. Sebagaimana sabda Rosulullah sollallohu'alaihi wasallam ماقطع من البهيمة وهي حية فهو ميتة "Apa-apa yang terpotong dari binatang ternak sedang ia masih hidup maka itu adalah bangkai" HR Tirmidzi (1480), Abu Dawud (2858), Ibn Majah (3216) 11. Air liur binatang buas atau binatang yg dagingnya haram dimakan. Ketika Rasulullah ditanya mengenai air yang berada di tempat terbuka, dan air bekas minum binatang buas, beliau bersabda : إذا كان الماء قلتين لم يحمل الخبث ;"Jika air tersebut lebih 2 qullah maka tidang mengandung najis" Hadits Sahih Abu Dawud (63). Kecuali Kucing, maka bekas minumnya suci, berdasarkan sabda Rasulullah sollallohu'alaihi wasallam mengenai kucing : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم في الهرة: "إنها ليست بنجس إنها من الطوافين عليكم والطوافات" ;"Sesungguhnya dia tidaklah najis,dan sesungguhnya dia adalah termasuk binatang yang biasa berkeliaran diantara kalian." Sahih HR Imam Ahmad (5/303 12. Daging hewan yang tidak dapat dimakan (haram). ;أن اللّه تعالى ورسوله ينهاكم عن لحوم الحمر الأهلية، فإنها رجس ;"Sesungguhnya Alloh dan RasulNya melarang kalian dari daging himar (keledai) yang jinak, karena sesungguhnya dia itu najis" HR Muslim (1940). Ini dulu yang bisa kita bahas, wa akhiru da'wana anilhamdulillahi robbil'alamin.
الحمد لله وكفى، وصلى الله وسلم وبارك على نبيه المصطفى وآله المستكملين الشرفا، ثم أما بعد Ikhwatal Islam rahimakumulloh .... Alloh Jalla wa'ala memiliki sifat yang maha rahmah, kasih sayang. sangat cinta kepada hambanya yang mau kembali kepada jalan yang lurus dan maha pengampun.Alloh berfirman : إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Al Baqarah : 218. Karena itu hendaknya kita jangan pernah berputus asa untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Alloh, sebagaimana Alloh berfirman : قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Az Zumar : 3 Ikhwah fillah... Diantara sebab turunya rahmat, ampunan, dan hidayah dari Alloh, mendapatkan rasa aman di akhirat, dan mendapatkan jaminan masuk syurga. adalah Tauhid ( mengesakan Alloh dalam ibadah ) yang selamat dari tercampurnya dari segala bentuk kesyirikan. Alloh berfirman : الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Al An'am : 82 Makna kedzaliman dalam ayat tersebut adalah kesyirikan, sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama tafsir. berdasarkan firman Alloh dalam QS Luqman yang artinya "Wahai anakku janganlah engkau berbuat syirik kepada Alloh, karena sesungguhnya syirik merupakan kedzoliman yang amat besar". Rosululloh Sollallohu'alaihi wasallam juga telah bersabda : عن عبادة بن الصامت أن رسول الله قال : " من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمداً عبده ورسوله ، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروحٌ منه ،و الجنة حق ، والنار حق ، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل "Dari Ubadah bin Shamit bahwasannya Rosululloh Sollallohu'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang bersaksi tidak ada sesembahan yang haq untuk disembah selain Alloh, tidak ada sekutu baginya, dan Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya, dan bersaksi bahwasannya 'Isa bin Maryam ( Yesus ) adalah hamba Alloh yang terjadi dari kalimatNya yang diturunkan kepada Maryam dan merupakan ruh dari ciptaan Alloh, dan bersaksi bahwa Syurga itu ada, dan neraka itu benar adanya. Maka Alloh akan memasukkan dia kedalam Syurga dengan segala amalan yang telah ia perbuat." Diriwayatkan Imam Bukhari no : 3435 dan Imam Muslim no :28. Perhatikanlah wahai ikhwah fillah hadits diatas, Alloh menjamin seorang hamba masuk syurga bila terpenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan, namun tentunya tidak sebatas ucapan yang kita ucapkan, namun konsekuensi dari kalimat tersebut, bahwa kita benar-benar tidak berbuat syirik, menyekutukan Alloh dalam ibadah, atau mencampuri ibadah kita dengan riya dan sum'ah. tidak menganggap yesus adalah tuhan,dan meyakini kehidupan akhirat benar adanya. maka Alloh akan mengampuni semua dosa-dosa yang telah ia perbuat bagi yang Alloh kehendaki, karena Alloh telah berfirman : إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."An Nisa' : 48 Ikhwah fillah... maka hendaknya kita bersungguh sungguh menjaga diri kita dari segala bentuk perbuatan syirik, baik itu syirik besar maupun syirik kecil, mengikhlashkan ibadah kita hanya untuk Alloh saja. dan semoga Alloh memasukkan kita kedalam hamba-hambaNya yang Alloh kehendaki untuk mendapatkan ampunanNya. Itulah syarat pertama dan yang paling utama, agar kita mendapatkan ampunan dari Alloh Robbuna Jalla wa 'ala dan mendapat jaminan syurga. adapun syarat-syarat yang lain insya Alloh.......menyusul ...^_^ Wa sollallohu'ala nabiyyina muhamma wa'ala alihi wasohbihi ajma'iin Wa akhiru da'wana anil hamdulillahi robbil'alamiin.
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له, أم بعد
Ikhwah fillah, rahimakumullah Ketahuilah.. 1. Tidaklah Alloh menurunkan dinul islam ini melainkan didalamnya terdapat tujuan yang agung, yaitu diesakannya Alloh Jalla wa 'ala dari segala bentuk peribadahan, baik ibadah yang dzahir ( nampak ) maupun batin ( tersembunyi ). Dan ini juga merupakan tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul sejak Nabi Nuh 'alaihissalam hingga Nabi kita Muhammad Sollallohu'alaihi wa sallam. Alloh berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah tetap kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." An Nahl : 36
Thaghut : Segala sesuatu yang disembah selain Alloh, bisa dari berhala, syaithan, atau manusia bila dia ridho (mau) untuk disembah.
2. Dan tidaklah kita juga diciptakan melainkan untuk tujuan tersebut. : Alloh berfirman : وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." Adz Dzariyat : 56 Adapun pengertian Ibadah adalah sebagaimana yang telah didefinisikan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah Rahimahullah : "Sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang Alloh cintai dan Alloh ridhai dari perkataan maupun perbuatan baik lahir maupun batin"
3. Itulah Tauhid dan itulah Diinul Islam yang Alloh tidak akan menerima agama seseorang selain Islam. إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
".......Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Yusuf : 40
4. Itulah Tauhid, yang Alloh tidak akan menerima ibadah seorang hamba, kecuali hamba tersebut telah bertauhid dengan benar, yaitu tidak menyekutukan Alloh dalam segala bentuk peribadahannya. Bukankah Alloh telah memerintakan : وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانً
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa....." An Nisa' : 36
Ikhwah fillah, Perhatikan dalam ayat tersebut Alloh menghubungkan antara perkara ibadah dengan syirik, Maknanya ; syarat agar amal ibadah itu sah adalah jauh dari syirik.
Karena itu orang kafir dan orang musyrik, sebanyak apapun amal ibadah yang mereka perbuat, sebanyak apapun sedekah yang mereka berikan tidak akan bermanfaat bagi mereka di akhirat kelak. Alloh berfiman : ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." Al An'am : 88
# Ikhwah fillah... Betapa banyak masyarakat kita masih bergelimang dengan dosa syirik; khurofat, tahayul, sihir ( dan ini banyak di ekspos di film-film, televisi dll ), percaya dengan ramalan bintang (zodiak) !, berobat ke dukun ( bukan dukun bayi lho ), tathoyyur ( percaya dengan pertanda burung ), memakai primbon, punya jimat, ilmu kebal, santet, pelet, minta-minta ke kuburan, dan semacamnya.
Maka sadarilah ikhwah fillah..., jika mereka mati dan masih melakukan perbuatan syirik tersebut, maka amal ibadah yang mereka kerjakan akan lenyap, dan tidak akan bermanfaat apapun bagi mereka. dan di akhirat mereka kekal di neraka. na'udzubillah. Apakah mereka masih ragu akan adanya kehidupan akhirat ?
قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَاحَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
"Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Alloh; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang hari (akhirat) itu", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu." Al An'am : 31.
Sungguh ini adalah perkara yang besar, namun masih banyak orang yang memandang remeh. Maka kewajiban kita adalah menjaga diri kita dan keluarga, teman, dan masyarakat dari api neraka.
Ini dulu yang dapat ana sampaikan, semoga bermanfaat. Wa akhiru da'wana anilhamdulillahi rabbil 'alamin
.
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له, أم بعد
Ihwatal islam hafidhokumullah.. Di dalam menuntut ilmu ada kesalahan-kesalahan yang wajib kita dihindari, yaitu :
1. Hasad ( iri dengki ) Yaitu tidak suka terhadap nikmat yang Allah berikan kepada saudaranya yang lain, sekalipun dia tidak menginginkan nikmat tersebut hilang dari saudaranya.Benci melihat temannya lebih pintar darinya, benci melihat ketekunan seseorang dalam belajar. Ini juga merupakan sifat tercela yang dimiliki kaum Yahudi. Alloh berfirman : أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ ءَاتَيْنَا ءَالَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا
"Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya ? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. An Nisa' :54
Orang yang dengki maka hidupnya akan selalu tersiksa dengan keberhasilan orang lain, ya Alloh, semoga kita dijauhkan dari sifat ini. 2. Berfatwa tanpa Ilmu. Fatwa adalah perkara yang mulia, karena ia sedang memberikan penjelasan/Solusi kepada saudaranya terhadap apa-apa yang menjadi masalahnya. Karena itu, hendaknya yang melakukannya adalah orang yang ahli dibidangnya. وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." Al Isra : 36 وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. An Nahl : 116.
3. Sombong. Kesombongan adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Dan ini dilarang dalam Islam. Jika kita salah dalam memahami sesuatu kemudian diingatkan seringkali kita merasa sombong. Ketahuilah bahwasannya Alloh berfirman : وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ
"Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?" Az Zumar 60
Dan bila kita memiliki ilmu, Ingatlah bahwa apa saja yang kita miliki adalah sekedar pemberian Allah saja bukan semata-mata dari diri kita sendiri. يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Mereka merasa telah memberi ni'mat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi ni'mat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan ni'mat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." Al Hujurat 17
4. Ta'ashub (fanatik) terhadap suatu madzhab tertentu Seorang penuntut ilmu dilarang ta'ashub golongan atau madzhab, karena hal itu akan membuka pintu perpecahan. Alloh berfirman : وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Al Anfaal : 46 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." An Nisa' :59 إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat". Al An'am : 159
5. Kembali dari menuntut ilmu sebelum pandai Jika seseorang melakukan yang demikian maka itu menunjukkan beberapa hal :
1. Dia memiliki sifat 'Ujub (bangga diri) telah menganggap dirinya pandai sebelum menguasai benar pelajaran yang ia pelajari. 2. Dia tidak akan faqih (faham/ahli) dalam banyak perkara, ini akan terlihat ketika manusia menanyainya dengan banyak permasalahan agama, dia akan kesulitan menjawabnya. 3. Itu bisa menjerumuskan dia kepada fatwa tanpa ilmu. 4. Jika sudah memiliki rasa bangga diri maka kebanyakan seseorang tersebut akan menolak jika diperingatkan (gengsi), dan tidak mau menerima kebenaran.
6. Su'udzon (buruk sangka) Misalnya buruk sangka terhadap orang lain yang melakukan kebaikan disangka mereka melakukan riya' agar dipuji, baik itu rajin dalam ibadah, banyak dalam sedekah, rajin belajar, dll. Hal ini dilarang karena Alloh telah berfirman : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." Al Hujurat :12
dan ketahuilah perbuatan ini adalah sifatnya dari orang munafik .Alloh berfirman : الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." At Taubah : 79
Ayat diatas menceritakan perbuatan orang munafiq, yang bila kaum mu'minin bersedekah dengan harta yang banyak mereka mencelanya dengan menyangka mereka (mu'minin) telah berbuat riya', Wallohul Musta'an.
Demikian Ikhwah fillah, hal-hal yang harus kita hindari dalam menuntut ilmu. Semoga Alloh memberikan kita kekuatan untuk menghindarinya. Amin Wa 'akhiru da'wana anilhamdulillahi robbil 'alamin.
الحمد لله الولي الأحد الفرد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد أما بعد
Ikhwah fillah, Ketahuilah dalam menuntut ilmu terdapat adab adab sebagai berikut :
1. Ikhlash. Hendaknya kita dalam menuntut ilmu ikhlash karena Alloh Jalla wa 'Ala. karena menuntut ilmu termasuk ibadah kepada Alloh.Sebagaimana Alloh telah berfirman : وما أمروا إلا ليعبدوالله مخلصين له الدين
"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini semata-mata bagiNya". QS Al Bayyinah
2. Hendaknya para penuntut ilmu bertujuan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya, bukan untuk berbangga-bangga atau untuk mendebat orang awam. Karena manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Alloh berfirman : والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيأ وجعل لكم السمع والبصر والأفئدة لعلكم تشكرون
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan memberi kepada kamu pendengaran , penglihatan dan hati agar kamu bersukur. “ ِAn Nahl : 78
3. Niatkan dalam kita menuntut ilmu adalah untuk membela syari'at ini, karena kitab-kitab / buku tidak dapat mendakwahkan apa apa yang tertulis padanya.
4. Lapang dada ketika berbeda pendapat dengan temannya dalam masalah ijtihad, karena bila tidak maka akan terpecah ummat ini. sedangkan kita dilarang berpecah. واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا "Dan berpegng teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai " Ali Imran 103.ِ
5. Hendaknya kita beramal dengan ilmu yang telah kita peroleh. baik dalam masalah Aqidah, Ibadah, Adab, Akhlaq, dan Mu'amalah. Bila kita tidak mengemalkannya maka ilmu tersebut justru akan menjadi bumerang bagi kita. "Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah"العلم بلا عمل كشجر بلا ثمر
6. Hendaknya kita mendakwahkannya. Sebagaimana Rasululloh sollallohu'alaihi wa sallam bersabda bahwa sebaik-baik kita adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya. خيركم من تعلم القرأن وعلمه " "sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya" HR. Muslim
7. Bijaksana, Hendaknya dalam menerapkan ilmu kepada masyarakat dengan cara yang bijaksana,أدع إلي سبيل ربك با لحكمة والموعظة الحسنة وجا د لهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم با لمهتد ين
"Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik dan debatlah ia dengan cara yang lebih baik". An-Nahl: 125. Juga tidak tergesa-gesa, tidak kaku, sehingga masyarakat mudah untuk menerimanya. Sebagaimana Rasululloh bersabda : يسرو ولاتعسرو بشرو ولا تنفرو "Mudahkanlah jangan dipersulit, berilah mereka kabar gembira dan jangan membuat mereka lari".
8. Sabar dalam menuntut ilmu, Hendaknya kita sabar dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya, tetaplah berusaha semampu kita. ٍSebagaimana sabarnya para Nabi dan Rasul : فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” Al-Ahqaaf: 35
9. Menghormati Guru. Sebagaiman Rosululloh bersabda : ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرن " Bukan termasuk golongan kami orang-orang yang tidak tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih muda, "
10. Berpegang teguh dengan Al Qur'an dan Assunnah. Sebagaimana Alloh berfirman : فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى "Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." Thaha 123
Dan sebagaimana Rasulullah Bersabda : "Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar, dan ta'at, walaupun yang memimpin adalah seorang budak Habsy. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup setelahku, niscaya akan melihat banyak perselisihan, maka hendaklah kalian berpeegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa'ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang baru, karena setiap bid'ah itu sesat'." HR. Abu Dawud
Demikian adab-adab dalam menuntut ilmu, dan kita akan lanjutkan pada waktu yang akan datang dengan Beberapa Kesalahan dalam menuntut Ilmu, Insya Alloh.
Wa'akhiru da'wana anil hamdulilahi rabbil 'alamin. Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
الحمد لله الولي الأحد الفرد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد أما بعد
Ikhwani fiddiin rahimani wa rahimakumullah. Ketahuilah bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim, sebagaimana Rasululloh Sollallohu 'alaihi wasallam bersabda : طلب العلم فريضة علي كل مسلم
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim" HR Baihaqi Ilmu manakah yang dimaksud ? tidak lain yang dimaksud disini tentunya adalah Ilmu Diin ( ilmu agama ), kenapa ? karena Rosululloh tidak pernah mengajarkan ilmu eksact. ^_^.
Rasulullah bersabda : "من يرد الله به خيراً يُفقهه في الدين" Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikannya, maka Allah akan membuatnya pandai dalam agamanya (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak ada rosululloh bersabda barangsiapa yang Allah kehendaki baik, maka Allah akan membuatnya pandai dalam ilmu dunia. :)
Wajib disini terbagi menjadi 2 macam, Fardhu 'Ain yang wajib bagi setiap orang, dan Fardhu Kifayah, bila telah ada sebagian masyarakat yang menuntut ilmu dan mencukupi jumlah mereka. Hal ini sebagaimana Alloh telah berfirman : "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang ugama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya". At Taubah 122
Bagaiman bisa menjadi wajib 'Ain ? yaitu bila berkenaan dengan Tauhid, dan ilmu ibadah yang akan dilakukan seorang hamba. karena tidak boleh seseorang beribadah tanpa ilmu.
Perhatikan firman Alloh : ""فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات
"Ketahuilah bawasannya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi orang mukmin laki-laki dan perempuan" QS Muhammad ayat 19. Ayat tersebut memerintahkan kita untuk mengenal Rabb kita yaitu Alloh. Bertauhid mengesakan Alloh dari segala bentuk peribadatan.
Ilmu diin ini ya ikhwan sangatlah penting dalam menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari, seseorang yang berilmu akan tenang ketika menghadapi masalah, adapun orang yang jahil/bodoh maka akan kebingungan dalam menghadapinya.
"قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ"
"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ٍَQS Az Zumar : 9
Orang yang berilmu akan banyak memberi manfaat pada orang lain ibarat cahaya yang menerangi alam sekitarnya, dan Alloh akan tinggikan derajat orang orang yang berilmu . lihat QS Al Mujadilah ayat 11. kewajiban bagi orang awwam adalah bertanya kepada ulama terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui, dan seorang 'alim tidak boleh menyembunyikan ilmu yang Alloh berikan padanya. فاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Namun perhatikan ya ikhwah, jika kita dimintai penjelasan terhadap suatu permasalahan yang kita belum tahu ilmunya, hendaknya kita mengatakan bahwa kita tidak tahu. jangan kemudian karena gengsi kita malah berfatwa tanpa ilmu.
Sebagaimana Alloh telah memperingatkannya dalam QS Al Isra' وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُول
"Dan janganlah kalian mengatakan sesuatu yang kalian tidak memiliki pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya. " QS Al Isra ayat 36. Begitu berbahayanya fatwa tanpa ilmu, karena jika fatwa tersebut salah, maka orang yang berfatwalah yang menanggung dosanya.
Akhirnya ana mengajak diri pribadi ana sendiri dan ikhwah sekalian untuk semangat menuntut ilmu diin ini, karena itu merupakan kewajiban bagi kita semua. Semoga Alloh senantiasa memberikan kemudahan.
Ikhwani fiddiin hafidhokumulloh. Ini saja dulu yang dapat ana sampaikan semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat. Insya Alloh kesempatan yang akan datang kita sambung dengan adab menuntut ilmu.
Wa akhiru da'wanaa anilhamdulilahi robbil 'alamin
Bismillahirrahmanirrahim
Ikhwah sekalian, Salah satu diantara keajaiban Al Qur'an adalah bahwasannya Alloh telah memudahkan Al Qur'an untuk dihafalkan, dan diingat, Sebagaimana Firman Alloh : "Walaqod yassarnalqur'aana liddzikri fahal min muddakir" Artinya : "Dan sungguh telah kami mudahkan Al Quran sebagai peringatan, maka apakah ada orang yang mau mengambil pelajaran ?" QS Al Qomar. Nah, bagi ikhwah dan akhwat sekalian yang masih merasa sulit untuk menghafalkan Al Qur'an, bisa mencoba tips-tips berikut ini , semoga bermanfaat :
1. Hendaknya niat kita menghafal Al Qur'an ikhlash karena Alloh, bukan karena mengharapkan hasil yang lain, misalnya : niatnya menghafal Al Qur'an tercampur keinginan untuk ikut lomba hafalan Al Qur'an. Ini penting karena menyangkut diterima-atau tidaknya amal ibadah antum disisi Alloh 'Azza wajalla.
2. Pastikan dalam menghafalkan Al Qur'an, antum dalam keadaan suci dari hadats.
3. Pilihlah tempat yang kondusif untuk menghafal dengan melihat content yang akan kita hafal. misalnya kita menghafalkan sesuatu yang membutuhkan analisa maka lebih tepat kita berada di tempat terbuka; misalnya di taman, di serambi rumah dll. maka akan memudahkan kita memahami pelajaran yang kita hafal. akan tetapi dalam menghafalkan Al Qur'an maka kita membutuhkan tempat yang jauh dari keramaian dan tidak banyak berinteraksi dengan manusia maupun lingkungan, misalnya di masjid, dikamar pribadi, dan yang semisalnya. Itu akan menambah kekhusyu'an antum dalam menghafal.
4. Pilih waktu yang tepat, waktu yang longgar , misalnya sebelum sholat subuh dan sesudahnya, atau disetiap sebelum atau sesudah sholat 5 waktu.
5. Hafalkan Al Qur'an dengan maknanya (kita tahu arti dari ayat-ayat yang kita hafalkan), Sebelum menghafal, kita baca terjemahannya, tentunya akan lebih baik lagi jika antum bisa bahasa arab, dan tahu tentang i,rob kalimat.
6. Dalam tekhnik menghafal, setiap individu akan berbeda cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ada yang lebih cepat hafal dengan membaca saja dengan suara yang keras, ada yang dengan menuliskan ayat-ayat yang dihafal, atau ada juga yang lebih cepat dengan mendengar murottal. nah ini adalah tugas antum untuk tahu dengan cara yang mana antum dapat lebih efektif dan cepat menghafal, atau antum akan menggunakan ketiga-tiganya ya tidak masalah.
7. Mulailah dengan ayat per ayat dan jangan terburu-buru, selesaikan satu ayat kemudian lanjutkan dengan ayat berikutnya, untuk melanjutkan ayat yang ketiga dan seterusnya antum harus sudah hafal benar ayat-ayat sebelumnya.
8. gunakan Sistem sabaq, sabqi, manzil. Sabaq adalah hafalan baru. Sabqi adalah hafalan yang kemarin kita hafalkan. manzil adalah hafalan 1 Juz yang telah lewat. di setiap harinya dalam menambah hafalan maka wajib disertakan pula hafalan kita yang kemarin. Dan setiap telah selesai 1 juz maka wajib mengulangnya ketika memasuki juz berikutnya. Contoh : Pagi ini kita menghafalkan Surat Al Qolam, maka itu disebut sabaq. setelah selesai dilanjutkan dengan mengulang Surat Al Mulk yang kemarin sudah kita hafalkan, itu namanya Sabqi, lalu nanti ba'da dhuhur atau sebelumnya kita murojaah 1juz ke belakang yaitu juz 30. Demikian seterusnya. Jangan menambah hafalan baru sebelum hafal benar surat yang kita baca.
9. Sebuah pantangan bagi penghafal Al Qur'an adalah memiliki rasa iri dan dengki. Jika antum memiliki perasaan tersebut maka buang dulu perasaan tersebut, dan selesaikan dulu masalah antum, karena itu akan sangat mengganggu.
10. Muroja'ah hafalan, lebih baik lagi jiga dibaca ketika sholat malam. dan memang ciri khas seorang penghafal Al Qur'an adalah rajin sholat malam.
Sekian dulu tips dari ana, Wa akhiru da'wana anilhamdulillahi robbil'alamin.
| |